Categories
Article

Menjadi Qawwam di Era Visual

Perkembangan teknologi membuat informasi semakin mudah menyebar. Bukan hanya informasi dalam bentuk kata-kata, gambar pun semakin mudah diakses oleh banyak orang. Dan informasi yang paling mudah menyebar adalah informasi yang paling disukai oleh syahwat manusia.

Dalam surat Ali Imran ayat 14, Allah memfirmankan hal-hal yang syahwat manusia sukai. Dalam tulisan ini, saya hanya akan membahas hal pertama yang Allah sebutkan. Hal inilah yang menjadi fitnah besar, cobaan yang berat, bagi kita semua.

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَاۤءِ

“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan….”

Sebagai laki-laki, kita diciptakan menyukai memandang kecantikan wanita. Tidak mengherankan wanita banyak, maaf, digunakan untuk memengaruhi orang lain. Banyak sekali iklan-iklan yang menggunakan wanita untuk menarik perhatian publik.

Salah satu dampaknya adalah munculnya anggapan masyarakat tentang penampilan wanita itu seharusnya. Muncul sebuah standar tentang kecantikan wanita. Standar yang sebenarnya tidak mungkin dicapai oleh wanita mana pun.

Standar ini bahkan tidak bisa dicapai oleh wanita yang menjadi model iklan sekali pun. Mengapa? Karena apa yang tampil di depan publik adalah hasil kerja banyak orang, mulai dari sutradaranya, make up artist, fotografer, sampai orang-orang yang mengedit hasil gambarnya.

Hal ini bukan hanya memengaruhi para lelaki yang kesulitan menjaga pikirannya agar tetap jernih. Kaum hawa mengalami tekanan yang luar biasa akibat masifnya budaya visual seperti ini. Untuk memahami tekanan itu seperti apa, mari kita selami salah satu hakekat dari perempuan.

Wanita Adalah Cermin

Setiap perempuan memiliki kebutuhan untuk merasa bahwa dirinya cantik dan istimewa. Ada analogi yang menggambarkan kebutuhan ini.

Seorang gadis kecil mengenakan gaun yang baru saja ayahnya beli. Gadis kecil ini bergoyang-goyang kecil di depan cermin, sambil berkata, “Ayah, lihat! Lihat!”

Ayahnya pun senang melihat anaknya menyukai bajunya. Lalu gadis kecil itu berkata, “Lihat, Ayah! Bukankah aku cantik?”

Dalam Bahasa Arab, perempuan itu bisa disebut mar’atun. Akar kata dari mar’atun ini sama dengan cermin (mir’atun). Memahami filosofi cermin akan sangat membantu kita dalam memahami tentang perempuan.

Cermin berfungsi untuk merefleksikan diri kita. Kita menggunakan cermin untuk memandangi diri kita sendiri.  Perempuan merasa senang ketika dipandangi. Namun bukan sembarang dipandangi. Ia ingin dipandangi dengan cara yang membuatnya merasa cantik dan istimewa.

Saat dipandangi, perempuan merasa dirinya berharga. Namun bukan dipandangi oleh sembarang orang. Orang itu haruslah orang yang istimewa di hatinya. Ketika masih kecil, orang yang istimewa itu adalah ayahnya. Semakin ayahnya mengistimewakannya, kebutuhan emosinya semakin terpenuhi. Seperti pada analogi gadis kecil di atas, sang gadis akan merasa senang ketika ayahnya memuji kecantikannya.

Seiring bertambahnya usia, ia masih butuh untuk merasa dirinya cantik dan istimewa. Hanya saja ia tidak menanyakannya lagi secara langsung. Seiring bertambahnya usia, rasa malu pun tumbuh menjadi mahkotanya. Dan setelah menikah, cerminnya ini berpindah ke pria yang ia pilih untuk menjadi suaminya.

Rasa malu ini yang membuat perempuan tidak mengungkapkan kebutuhan ini secara langsung. Bahkan terhadap suaminya sekali pun. Contoh-contoh semacam ini banyak sekali bertebaran.

  • Saat akan pergi ke luar bersama suaminya, sang istri mencoba berbagai pakaian yang ada di dalam lemari bajunya. Namun walau sudah puluhan baju yang ia coba, ia masih saja mengeluh tidak mempunyai baju.
  • Istri bertanya pada suaminya tentang penampilannya, padahal ia sudah berkali-kali bercermin
  • Istri masih saja ingin membeli baju yang baru, walau bajunya yang lain masih bagus bahkan walau keuangan keluarga sedang sulit
  • Istri bertanya pada suaminya, “Aku gemuk ya pakai baju ini?” padahal yang sebenarnya istri maksud itu, “Tolong bilang kalau aku tidak gemuk.”
  • Istri merasa sangat kesal dan marah ketika suaminya memandangi perempuan lain

Semua kejadian ini menandakan adanya kebutuhan perempuan untuk merasa bahwa dirinya cantik dan istimewa. Di dalam hati perempuan, ada gadis kecil yang bertanya-tanya, “Apakah di matamu sekarang ini, aku masih cantik?”

Dengan adanya kecenderungan untuk merasa cantik dan istrimewa, perempuan menghadapi tekanan di tengah zaman informasi yang sangat visual. Publik semacam mendikte penampilan seperti apa yang harus seorang perempuan miliki untuk dianggap cantik.

Budaya visual ini adalah salah satu dampak budaya pop yang kita impor dari barat. Untuk mengetahui seperti apa pengaruh budaya visual terhadap perempuan barat, mari kita simak beberapa kutipan yang saya ambil dari buku For Men Only: A Straightforward Guide to the Inner Lives of Women.

“Setiap harinya, kami dibombardir dengan gambar-gambar di sekitar kami tentang bagaimana penampilan kami ‘seharusnya.’ Ada ketakutan di dalam diri kami bahwa kami merasa harus memenuhi ekspektasi suami kami tentang proporsi tubuh ideal Hollywood yang sempurna. Dan kami tahu kami tidak akan bisa memenuhinya. Terlintas dalam pikiran kami bahwa jika kami tidak bisa memiliki tubuh ideal, mungkin perhatian suami akan berpaling ke yang lain. Ini sangat menggelisahkan, walau kami tahu ini sangat konyol. Walau kami tahu kenyataannya tidak seperti itu, tapi sekadar tahu saja tidak bisa menghilangkan kegelisahan yang kami alami.”

Perempuan lain mengungkapkan dampaknya secara lebih gamblang, “Dalam budaya ini, perempuan tidak dilindungi secara emosional. Perempuan sedang dipermalukan.”

Budaya visual di negeri ini sangat terpengaruhi oleh budaya barat. Banyak gambar yang seharusnya hanya boleh diperlihatkan di ruang privat, di hadapan suaminya. Dengan tereksposnya gambar-gambar ini di mana-mana, ketakutan itu terjadi pada perempuan yang kita, laki-laki, pimpin. Maka akan kita mulai bahas tentang menjadi pemimpin di era visual ini.

Memimpin Di Era Visual

اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاۤءِ

Laki-laki adalah qawwam bagi perempuan. Itulah ketetapan yang Allah jadikan pada kita. Apa makna dari qawwam? Dalam Ke Mana Kulabuhkan Hati ini, Ustad Budi Ashari merangkum berbagai penjelasan para ulama tentang makna qawwam ini.

Qawwam sering dimaknai sebagai pemimpin. Hal ini sesuai dengan makna yang diberikan Abu Bakar Ar-Razi bahwa qawwam itu qayyim, yang dalam keluarga berarti pemimpin yang mengurusi semua urusan keluarganya. Lalu, Al Ashfahani menjelaskan bahwa qawwam itu qiyam, yang berarti memperhatikan dan menjaga. Terkait budaya visual, peran qawwam sebagai penjaga iniilah yang harus kita ambil.

Di tengah gempuran gambar-gambar yang menarik syahwat lelaki, kita perlu menjaga agar perasaan istri tidak tersakiti. Setidaknya ada 2 hal yang perlu kita lakukan untuk menjaga perasaan istri dari hal ini.

  1. Memastikan istri merasa cantik dan istimewa

Yang pertama adalah memastikan istri kita selalu merasakan bahwa suaminya menganggap dirinya cantik dan istimewa. Salah satu hal yang RasuluLlah ShallaLlahu alayhi wa Sallam lakukan pada istrinya adalah memberikan panggilan spesial. Misalnya salah satu panggilan beliau untuk Aisyah radhiyallahu anha adalah Humaira.

Humaira bermakna pipi yang kemerah-merahan. Pipi yang kemerah-merahan adalah satu simbol kecantikan. Betapa banyak wanita berusaha berdandan agar pipinya tampak kemerah-merahan. Panggilan seperti ini membuat perempuan tahu bahwa suaminya masih mengagumi kecantikannya.

Perempuan membutuhkan pujian semacam ini. Bukan karena haus pujian, namun ia ingin tahu apakah ia masih berharga di mata suaminya. Maka, pujilah kecantikannya. Secara verbal. Sesering mungkin. Bisa dengan mengatakan, “Kamu cantik,” atau gunakan panggilan-panggilan yang membuatnya merasa bahwa dirinya cantik di matamu.

  1. Menjaga diri dari zina

Yang kedua adalah menjaga dirimu dari zina. Seringkali orang menganggap bahwa berzina terjadi hanya ketika berhubungan seksual bukan dengan pasangan tidak sahnya. Padahal, hal-hal yang seringkali dianggap “sepele” pun termasuk zina.

RasuluLlah ShallaLlahu alayhi wa Sallam bersabda, “Setiap Bani Adam mempunyai bagian dari zina, maka kedua mata pun berzina, dan zinanya adalah melalui penglihatan. Dan kedua tangan berzina, zinanya adalah menyentuh. Kedua kaki berzina, zinanya adalah melangkah—menuju perzinaan. Mulut berzina, zinanya adalah mencium. Hati dengan berkeinginan dan berangan-angan. Dan kemaluanlah yang membenarkan atau mendustakannya.” (HR Muslim)

Pandangan yang tidak terkendalikan itu membahayakan. Bagi lelaki, hal itu menjadi selangkah menuju zina yang lebih besar. Bagi istrinya, hal itu menyakiti perasaannya. Bahkan walau suaminya sering memuji kecantikan istrinya sekali pun.

Berikut ini pengakuan seorang istri dalam For Men Only, “Seorang perempuan yang suaminya tidak mengendalikan pandangannya akan merasa bahwa dirinya sudah gagal. Bagaimana bisa dia tidak merasa seperti itu? (Saat suaminya menatap perempuan lain, ia merasa) kecantikannya sudah tidak bisa memenuhi keinginan suaminya. Matanya sudah berbicara, makai ia tidak mempunyai pilihan selain merasa ragu. Tapi ia ingin dianggap berharga di mata suaminya. Ia ingin menjadi sumber kecantikan suaminya.”

Jika dipukul dengan palu, cermin akan rusak. Minimal menjadi retak. Inilah yang terjadi ketika suami tidak mengendalikan syahwatnya. Cermin istrinya menjadi rusak. Jika sudah retak, bekasnya tidak akan bisa hilang.

Maka, menjaga pandangan adalah hal yang harus dilakukan untuk menjaga perasaan istri (yang tentu juga menjaga nasib dunia akhirat kita). Saat kita menjaga pandangan kita, agar tidak melihat hal-hal yang tidak sepantasnya kita lihat, kita sedang menjaga rasa percaya istri terhadap diri kita.

Setiap zaman memiliki tantangannya masing-masing. Kita hidup di zaman visual. Dan pada zaman ini, mata kita menjadi semakin mudah tergelincir. Namun justru ketika kita mampu benar-benar mengistimewakan istri kita, dengan memperlakukannya sebaik mungkin dan juga menutup pandangan kita dari hal-hal yang Allah haramkan, kita bukan hanya menjaga kepercayaan yang istri kita berikan. Kita juga sudah menjaga kepercayaan yang Allah berikan.

Nabi ShallaLlahu alayhi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya dunia ini begitu manis nan hijau. Dan Allah mempercayakan kalian untuk mengurusinya, Allah ingin melihat bagaimana perbuatan kalian. Karenanya jauhilah fitnah dunia dan jauhilah fitnah wanita, sebab sesungguhnya fitnah pertama kali di kalangan Bani Israil adalah masalah wanita” (H.R. Muslim: 2742)

Semoga dengan usaha menjaga istri kita ini, Allah menambahkan pertolongan-Nya sehingga kita mampu mengurus dunia ini dengan lebih baik.

1 reply on “Menjadi Qawwam di Era Visual”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *